Media massa atau Pers adalah suatu istilah yang mulai digunakan pada tahun 1920-an
untuk mengistilahkan jenis media yang secara khusus didesain untuk
mencapai masyarakat yang sangat luas. Dalam pembicaraan sehari-hari,
istilah ini sering disingkat menjadi media. Masyarakat dengan tingkat ekonomi rendah memiliki ketergantungan dan
kebutuhan terhadap media massa yang lebih tinggi daripada masyarakat
dengan tingkat ekonomi tinggi karena pilihan mereka yang terbatas.
Masyarakat dengan tingkat ekonomi lebih tinggi memiliki lebih banyak
pilihan dan akses banyak media massa, termasuk bertanya langsung pada
sumber atau ahli dibandingkan mengandalkan informasi yang mereka dapat
dari media massa tertentu. (https://id.wikipedia.org/wiki/Media_massa)
Pers umumnya tunduk pada system yang berlaku
dimana system itu hidup, sementara system per situ sendiri tunduk pada system politik
pemerintahan yang ada. Bersama dengan lembaga kemasyarakatan lainnya, pers
berada dalam keterikatan organisasi yang bernama negara, oleh karenanya pers
dipengaruhi bahkan ditentukan oleh falsafah dan system politik negara dimana per
situ berada. Singkat kata, perkembangan dan pertumbuhan pers tidaklah dapat
dipisahkan dari perkembangan dan pertumbuhan system politik dimana per situ berada,
dan merupakan subsistem system politik yang ada (Suwardi, 1993 : 23).
Sejarah perkembangan pers Nasional
Sejarah perkembangan pers di Indonesia sangat erat hubungan nya
dengan sejarah dari sistem politik Indonesia sejak jaman pendudukan
kolonial Belanda. Fungsi pers pada massa kolonial Belanda hanya
ditujukan untuk membela kepentingan-kepentingan kolonial Belanda. Media
yang meliputi surat kabar, majalah dan koran semuanya berbahasa Belanda.
Seiring berjalannya waktu, orang-orang Indoesia terutama orang
pergerakan mengusahakan berdirinya pers nasional yang dikelola sendiri
untuk memperjuangkan hak-hak bangsa Indonesia yang terjajah
Bisa dikatakan masa sejarah pers nasional diawali dengan terbitnya
koran mingguan Medan Prijaji pada tahun 1907 yang didirikan oleh RM
Tirto Adhi Soerjo dan Raden Djokomono. Penerbitan koran inilah yang
pertama kali menggunakan modal nasional dan dipimpin oleh orang
Indonesia setelah sebelumnya seluruh media massa dipegang kendali oleh
Belanda. Koran berbahasa melayu ini pada tahun 1910 diubah formatnya
dari minggguan menjadi harian.
Koran Medan Prijaji menjadi awal pers Indonesia dalam melawan
kesewenang-wenangan penguasa dan menyerukan agar bangsa pribumi
mengorganisasi diri untuk menghadapi pihak-pihak asing. Dengan tujuan
itu, pendirinya, Tirto Adhi Soerjo bahkan terlibat dalam Serikat Dagang
Islam (SDI) di Bogor yang berubah menjadi Sarekat Islam (SI) di Solo dan
beberapa kota di Jawa. Ia pun menyampurkan identitas agama Islam dengan
pribumi untuk memajukan bangsa dengan memanfaatkan SDI dan SI. Selain
Media Prijaji, tercatat juga koran milik SI yaitu Oetoesan Hindia, Koem
Moeda, Sinar Djawa, dan Pantjaran Warta turut menyerukan perlawanan
terhadap kesewenangiwenangan penguasa. Adapun koran Bintang Hindia,
Insoelinde, Warna Warta lalu koran milik organisasi pergerakan seperti
Boedi Utomo dan Indische Partij yaitu Dharma Kondo dan De Express juga
ikut melawan dengan mengugkap kesewenangan kekuasaan kolonial Belanda.
Beberapa tahun kemudian gerakan perlawanan berkembang menjadi gerakan
menuntut perjuangan.
Pejuangan kemerdekaan melalui pers terus berlanjut hingga datangnya
masa penguasaan Jepang. Saat itu semua media pers langsung berada di
bawah pemerintahan militer Jepang sebagai alat propaganda Jepang
melawan sekutu. Koran berbahasa Belanda dilarang terbit pada masa
pendudukan Jepang, namun kondisi itu dimanfaatkan pers untuk meratakan
penggunaan bahasa Indonesia ke seluruh pelosok tanah air. Bahkan orang
Indonesia juga mendapatkan latihan pengelolaan pers yang nantinya
berguna pada masa pasca kemerdekaan.
Masyarakat Internasional memberikan simpati terhadap kemerdekaan RI
yang diserukan tanggal 17 Agustus 1945 karena media pers yang terus
mengobarkan api kemerdekaan. Bahkan ketika Inggris dan Belanda mencoba
kembali menguasai Indonesia, media terus gencar dengan perlawanan
mereka untuk mempertahankan kemerdekaan. Setelah masa revolusi dan Republik Indonesia diakui dunia
iternasional tahu 1948, pers diahadapkan dengan permasalahan yang pelik
antar pribumi karena adanya ketegangan sosial yang tinggi. Tokoh-tokoh
berlomba mengisi jabatan-jabatan yang tersedia dalam pemerintahan,
padahal institusional poitik belum berjalan. Fungsi pers pun berubah
menjadi alat perjuangan kelompok partai atau aliran tertentu sehingga
melupakan tugasnya sebagai pembangun karakter nasional.
Pada masa demokrasi terpimpin yaitu saat Soekarno menjabat sebagai
presiden pertama Indonesia (1959-1965), pers ditugasi untuk menggerakkan
aksi-aksi massa yang revolusioner. Lalu pada masa orde baru, pers
menjadi alat vital untuk mengkomunikasikan pembangunan masa itu. Jika
ada pers yang mengkritik soal pembangunan, maka media yang melakukan
pemberitaan akan memperoleh tekanan. Hal tersebut sangat mengekang
kebebasan pers. Bahkan pers yang tidak sejalan dengan pemerintah akan
dibredel dan dicabut Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) seperti
yang pernah dialami oleh majalah Tempo.
Kebebasan pers kembali bisa diperoleh pada masa reformasi tahun 1998.
Pada masa itu mulai bermunculan media baru selain media cetak dan
televisi, yaitu media siber atau online. Pada masa itu muncul juga UU RI
No. 40 Tahun 1999 tentag pers yang membahas kebebasan pers serta
mengakui dan menjamin hak memperoleh informasi dan kemerdekaan
mengungkapkan pikiran dan pendapat sesuai dengan hati nurani sebagai hak
manusia yang paling hakiki. Selain itu UU ini juga memberikan kebebasan
kepada wartawan untuk memilih organisasi wartawan sekaligus menjamin
keberadaan Dewan Pers.
Fungsi pers fungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan dan
kontrol sosial dewasa ini memilik tantangan dalam mempertahankan
profesionalismenya. Banyak pihak dalam kancah politik berusaha
memanfatkan media massa sebagai ajang pencitraan atau bahkan menjatuhkan
saingannya. Hal itu membuat media massa terkadang lepas dari koridor
keberimbangan. Oleh sebab itu kode etik jurnalistik memang sangat perlu
dipegang teguh oleh jurnalis untuk menjaga nilai berita dan
profeionalismenya.
Sejarah Perkembangan Pers Internasiona/Dunia
Banyak
orang yang mengatakan bahwa pers sudah ada sejak lama. Cikal bakalnya
muncul sejak zaman Romawi Kuno (59 SM). Sejumlah catatan sejarah menyebutnya
sebagai Acta Diurna, semacam jurnal yang beritanya masih ditulis tangan alias
tak dicetak.
Sekalipun cikal bakalnya ada di Romawi,
koran edisi cetak sendiri ternyata tak muncul di sana untuk kali pertama. Koran
edisi cetak pertama justru dikenal di Cina, bernama Di Bao (Ti Bao) yang terbit
sekitar tahun 700-an. Tentu, jangan pernah membayangkan bahwa koran itu
terlihat bagus seperti yang kita lihat setiap hari sekarang, sebab Di Bao
dicetak dengan menggunakan balok kayu yang dipahat. Hurufnya aksara Cina. Ahli
sejarah sepakat bahwa Di Bao adalah koran pertama di dunia yang sudah dicetak. Selain hurufnya yang masih kasar, bentuk
koran zaman dulu juga juga tak seperti sekarang yang terdiri atas
berlembar-lembar halaman. Bentuk koran pada zaman dulu masih sangat sederhana,
masih berupa lembaran berita atau disebut newssheet.
Dari sisi isi, juga lebih banyak
berkaitan dengan dunia bisnis para banker serta pedagang dari Eropa. Termasuk
koran berikutnya, Notize Scritte yang terbit di Venesia, Italia. Saat itu,
koran lembaran ini biasanya banyak dipasang di tempat umum. Namun, untuk membacanya
warga harus membayar 1 gazzeta.
Dari sanalah, konon, muncul istilah gazette
yang dalam perkembangannya diartikan sebagai koran. Era
kebangkitan koran lantas terjadi menyusul penemuan mesin cetak oleh Johan
Gutenbergh pada pertengahan abad XV. Penemuan mesin yang memudahkan proses
produksi ini memicu terbitnya koran-koran di Eropa, sekalipun prosesnya tak
sekaligus.
Awalnya, lembar berita yang terbit tidak
teratur dan memuat cuma satu peristiwa yang saat itu sedang terjadi. Koran
berkala muncul tahun 1609 dengan terbitnya mingguan Avisa Relation oder Zeitung
di Jerman. Berikutnya terbit pula Frankfurter Journal (1615). Sampai kemudian
lahir Leipzeiger Zeitung (1660), juga di Jerman, yang mula-mula mingguan,
kemudian jadi harian. Inilah koran harian pertama di dunia.
Koran lainnya yang kemudian muncul
adalah The London Gazette yang terbit di Inggris tahun 1665. Namun koran yang
pertama terbit secara harian di Inggris adalah The London Daily Courant (1702),
disusul The Times yang terbit sejak abad XVII dan yang pertama kali memakai
sistem cetak rotasi.
Daftar Pustaka :
- (Anglingkeling, 2012, http://anglingkeling.wordpress.com/2012/12/14/sejarah-singkat-pers-nasional/ , 4 Desember 2012)
- (Dea Kuswangga, 2014, http://deakuswangga.blogspot.co.id/2014/02/sejarah-singkat-pers-dunia-indonesia.html, 7 Februari 2014)
- Suwardi, Harsono (1993), Peranan Pers Dalam Politik Di Indonesia: Suatu Studi Komunikasi Politik Terhadap Liputan Berit Kampanye Pemilu '87. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.









0 komentar:
Posting Komentar