WELCOME TO MY BLOG

animasi bergerak gif

sejarah singkat pers nasional dan internasional



Sejarah Pers (Jurnalistik) Dunia

Sejarah jurnalistik di mulai pada masa Romawi kuno, pada masa pemerintahan Julius Caesar (100-44 SM). Pada waktu itu, ada acta diurna berisi hasil uji coba semua, peraturan baru, keputusan senat dan informasi penting lainnya yang dipasang di pusat kota yang disebut Stadion Romawi atau “Forum Romanum”.
Surat kabar pertama diterbitkan di Cina pada tahun 911, Pau Kin. Koran ini dimiliki oleh pemerintah ketika masa Kaisar Quang Soo. Tidak berbeda dalam Age of Caesar, Kin Pau mengandung berita keputusan, pertimbangan dan informasi lain dari Istana. Pindah ke Jerman, tahun 1609, penerbitan surat kabar pertama bernama Avisa Relation Order Zeitung. Pada 1618, surat kabar tertua di Belanda bernama Coyrante uytItalien en Duytschland. Surat kabar pertama di Inggris diterbitkan pada 1662 bernama Oxford Gazette (later the London) dan diterbitkan terus menerus sejak pertama kali muncul. Surat kabar pertama di Perancis, the Gazette de France, didirikan pada tahun 1632 oleh raja Theophrastus Renaudot (1.586-1.653), dengan perlindungan Louis XIII. Semua surat kabar yang terkena sensor prepublication, dan menjabat sebagai instrumen propaganda untuk monarki.
Industri surat kabar mulai menunjukkan kemajuan yang luar biasa ketika budaya membaca di masyarakat semakin meluas. Terlebih ketika memasuki masa Revolusi Industri, di mana industri surat kabar diuntungkan dengan adanya mesin cetak tenaga uap, yang bisa meningkatkan kinerja untuk memenuhi permintaan publik akan berita.
Pada pertengahan 1800-an bisnis berita mulai berkembang. Organisasi kantor berita yang berfungsi mengumpulkan berbagai berita dan tulisan didistribusikan ke berbagai penerbit surat kabar dan majalah. Pasalnya, para pengusaha surat kabar dapat lebih menghemat pengeluarannya dengan berlangganan berita kepada kantor-kantor berita itu daripada harus membayar wartawan untuk pergi atau ditempatkan di berbagai wilayah. Kantor berita yang masih beroperasi hingga hari ini antara lain Associated Press (AS), Reuters (Inggris), dan Agence-France Presse (Prancis).
Tahun 1800-an juga ditandai dengan munculnya istilah Yellow Journalism (jurnalisme kuning), sebuah istilah untuk “pertempuran headline” antara dua koran besar di Kota New York. Satu dimiliki oleh Joseph Pulitzer dan satu lagi dimiliki oleh William Randolph Hearst. Ciri khas jurnalisme kuning adalah pemberitaannya yang bombastis, sensasional, dan pemuatan judul utama yang menarik perhatian publik. Tujuannya hanya satu “meningkatkan penjualan!”.
Jurnalisme kuning tidak bertahan lama, seiring dengan munculnya kesadaran jurnalisme sebagai profesi.
Organisasi profesi wartawan pertama kali didirikan di Inggris pada 1883, yang diikuti oleh wartawan di negara-negara lain pada masa berikutnya. Kursus-kursus jurnalisme pun mulai banyak diselenggarakan di berbagai universitas, yang kemudian melahirkan konsep-konsep seperti pemberitaan yang tidak bias dan dapat dipertanggungjawabkan, sebagai standar kualitas bagi jurnalisme professional.


sejarah pers  Indonesia (Nasional)

Selama 15 tahun setelah Indonesia memperoleh kedaulatannya sebagai negara merdeka, persetelah memberikan kesaksian yang aktual terhadap peristiwa peristiwa yang dinilai penting pada zamannya sepanjang tahun1950-1965. Pada masa masa awal pengakuan kedaulatan (1950-1956), pers Indonesia merasakan kebebasannya yang besar. Terhadap pemerintah,tentara dan Presiden Soekarno, pers memberikan dukungan yang positif selama mereka mengambil kebijakan politik, sosial dan ekonomi yang menguntungkan publik, mendorong suasana kehidupan yang demokratis, mengharumkan nama bangsa dan menjaga persatuan nasional. Peristiwa-peristiwa seperti KAA I tahun 1955 di Bandung, PEMILU I tahun 1955,penumpasan gerakan DI/TII (1949-1962) dan pembebasan wilayah Irian Barat agar bersatu dengan wilayah Indonesia pada awal tahun 1960-an,didukung sepenuhnya oleh pers. Pers Belanda yang ragu-ragu dan tidakmendukung kebijakan politik pemerintah, harus mengakhiri penerbitannyapada akhir tahun 1950an.

Namun dukungan pers kepada pemerintah itu bukannya tanpa kritikcdan kehilanganckebebasannya sama sekali. Terhadap peristiwa yang dinilai menyalahi kehidupan demokrasi, pers mengkritiknya secara tajam dan terang-terangan. Beberapa peristiwa seperti tindakan otoriter tentara yang ingin membubarkan Parlemen pada tahun 1952, skandal tentang kehidupan poligami Presiden Soekarno pada tahun 1954, prostitusi terselubung dalam acara KAA I di Bandung, korupsi dan kolusi antara pejabat negara dan tentara dengan para pengusaha Cina dan kebijakan pemerintah lainnya yang tidak transfaran, dijadikan bahan berita dan opini oleh pers Indonesia. Berita dan opini pers itu, khususnya surat kabar, disajikan sedemikian rupamelalui kolom berita utama, analisisberita, tajuk rencana, catatan pojok dangambar karikaturnya. Pers Indonesia pada tahun 1950-1956, dengandemikian, menikmati kebebasannya yang besardalam alam kehidupanpolitik DemokrasiLiberal.Tanda-tanda kebebasan pers akan surut dimuai setelah tahun 1956. Silih bergantinya kabinet pemerintahan parlementer, tiadanya pemenang kekuatan politik yang dominan dalam PEMILU1955 dan pergolakan didaerahmenentang pemerintah pusat pada tahun 1957, mendorong pemerintah, tentara dan Presiden Soekarno untuk memberlakukan negaradalam keadaan bahaya (SOB,,Staat van Oorlog en Beleg). Atas nama SOB, persdibatasi kebebasannya. Bahkan pada tahun 1958,pers diktontrol olehpemerintah dan tentara dengan cara harus meminta SIC (Surat Izin Cetak).Ketika Presiden Soekarno meraih kekuasaannya secara efektif (1959-1965),kebebasan pers benar-benar sudah berakhir di Indonesia karena ia hanya dijadikan alat dan corong resmi bagi kebijakan politik pemerintah. Namun pers yang terkooptasi oleh kekuasaan itu bisa juga turut meruntuhkan kekuasaan. Kejatuhan Presiden Soekarno, yang diawali dengan peristiwa G-30-S tahun 1965, dalam banyak hal juga karena pers yang semula mampudikendalikannya secara ketat itu kemudian berbalikmenyerang dan meruntuhkan kekuasaanPresiden. Sejak bulan Okober 1965,pers telah jatuhdi bawah kendali tentara, terutama TNI-AD, dan turut mereduksi peranpolitik dominan PKI dan meruntuhkan wibawa Presiden Soekarno di satusisi, serta di sisi lain mengusung kekuasaan baru di bawah kepemimpinan Mayor Jenderal Soeharto, yang kemudian akan terpilih sebagai Presiden RIsetelah era Soekaro  

referensi
- https://herapujiastuti.wordpress.com/2015/01/07/sejarah-pers-dunia-dan-perkembangannya/
- Andi suwirta.2008.Dinamika kehidupan pers di Indonesia pada tahun 1950-1965:antara Kebebasan dan tanggung jawab Nasional. Jakarta: Sosiohumanika



0 komentar:

Posting Komentar