Kerja keras, bukan bakat
Jiwa pejuang tidak lahir karena
keturunan belaka, hal itu bisa terjadi jika orang itu berusaha. sama hal nya
dengan jiwa olahraga, keturunan bukan sebuah jawaban yang bisa di sematkan pada
pernyataan bahwa keluarga yang memiliki kecintaan pada olahraga berarti akan
mempunyai keturunan yang memiliki jiwa yang sama dengan orang tuanya.
Meskipun hal itu kadang terjadi di
sebuah keluarga yang rata-rata adalah seorang pejuang dalam olahraga hingga
memiliki anak yang saat ini juga menjadi penerus mereka dan bahkan anak
tersebut menggeluti di cabang olahraga yang sama dengan orang tuanya, tapi
banyak juga anak yang lahir dari keluarga yang bukan sama sekali masuk dalam
pejuang olahraga atau bahkan tidak memiliki skill
atau kemampuan di bidang olahraga.
Hal itu bisa saja terjadi jika anak itu
mau berusaha dan kerja keras, hingga akhirnya ia menjadi pembuka jalan bagi
keturunanya untuk ikut menjadi pejuang olahraga di keluarganya, hingga akhirnya
keturunan-keturunannya ada yang meneruskan perjuangan orang tuanya atapun kakek
nenek buyutnya meskipun cabang olahraga yang digelutinya berbeda.
Terlahir dari keluarga yang tidak
berdedikasi tinggi pada olahraga bahkan semua anggota keluarga tidak memiliki basic atau kemampuan sama sekali dalam
bidang olahraga, NiamSeptiawanita yang lahir pada
11 September 1999di kabupaten Semarang mempersiapkan
diri untuk menghadapi salah satu event olahraga
yang bergengsi pada cabang olahraga atletik di nomor lari 400 meter.
“Saya lahir dari keluargatidakada yang
sukasamaolahraga, jadi basic olahragatidakada, darikeluarga yang
sukaolahragacumasayasaja”,
ujar Niam.
Sebelum menggeluti olahraga yang
bersifat individu yakni nomor lari 400 meter pada cabang olahraga atletik,
“ndeng” panggilan akrab yang biasa dilontarkan oleh teman-temannya, semasa
kecil justru ia menyukai sepaktakraw, hingga ia
masuk dalam klub sepaktakrawyang bernama Tri Kusumodi daerahnya yakni kabupaten Semarang.
“Pertama sukaolahragadarisepaktakrawmulaikelas 6 SD sudahmengikutiklubsepaktakrawdi se,arangnamanya Tri Kusumo”, ujarnya.
Menggeluti sepaktakraw
sejak kecil baginya sangat menyenangkan, selain memiliki tantangan tersendiri
yakni melawan klub-klub di daerahnya, ia juga merasakan dengan sepaktakrawia dapat berkumpul dengan banyak orang, dan dari
sepaktakraw itu pun ia pernah meraih juara 3 antar klub
se-kabupaten Semarang.
“Ikutsepaktakrawkarenasenangbisakumpulbanyak
orang. Ada tantangannya., disepaktakrawpernahjuara 3 antarklub se-kabupatensemarang”, ujarnya.
Sejak saat itu Niam
terus menggeluti pada cabang olahraga sepaktakraw
yang menurutnya menyenangkan dan mendapat tantangan tersendiri, dari kelas 6
Sekolah Dasar hingga kelas 10 Sekolah Menengah Atas. Sampai pada akhirnya ia
dikenalkan dengan cabang olahraga Atletik oleh temannya yang pada saat itu ia
telah masuk kelas 11 SMA. Awalnya ia ikut kedalam cabang olahraga Atletik
tersebut hanya karena ikut dengan teman, hingga ia terus-menerus ikut dalam
latihan sampai akhirnya ia dipanggil oleh pelatih, lalu ia ditunjuk sebagai salah
satu anak yang ikut dalam memperkuat tim nomor estafet 4x100 meter. Dan untuk
pertama kalinya ia ikut pada lomba lari cabang Atletik di Jawa Tengah.
“Barukelas 2 sma, kenalsmaatletikdaritemen. Diajaktemen terus diliriksama
pelatihatletikdisuruhlatihan untukmemperkuattimestafet 4x100 meter”, ujarnya
Dari ditunjuknya ia sebagai pelengkap
untuk memperkuat tim estafet, saat itu pertama kali ia mengikuti lomba lari di
Jawa Tengah pada nomor estafet 400 meter bersama tim dari SMA nya atas kehendak
pelatih.
“Pertama kali lomba di jawatengahyaituikutlariataucaborAtletik”. tambahnya.
Hingga saat ini Niam
terus menggeluti pada cabang olahraga Atletik di nomor lari, meskipun sudah
tidak lagi memperkuat tim estafet namun ia pernah mencoba menjadi atlet
individu pada cabang olahraga tersebut yakni di nomor lari atau sprint 100 meter.
“Dari kelas 2 SMA sampe sekarang masihikutAtletik”, ujarnya.
Namun pada nomor sprint 100 meter tersebut ia sudah tidak percaya diri lagi
dikarenakan banyaknya saingan yang kemampuannya lebih tinggi darinya, hingga ia
merasa dirinya sudah tidak mampu lagi pada nomor tersebut. Dan pada akhirnya ia
berpindah pada cabang olahraga yang sama namun dengan nomor yang berbeda, kini
ia masuk dalam nomor lari 400 meter.
“Dan dulupernahmenjadi spesialis nomor 100 meter,tapi karena 100 meter
sayakurangmampudan banyaksaingan, akhirnya saya pindah di nomor 400 meter”, tambahnya.
Pada nomor lari 400 meter ia terus
berjuang dan kerja keras dengan berlatih secara giat dan tekun, hal itu ia
lakukan semata-mata agar ia dapat prestasi yang tinggi di nomor lari 400 meter
pilihannya ini. Kerja kerasnya itu pun ia lakukan tak sia-sia dengan bangga dia
bisa menunjukkan bahwa ia mampu pada nomor barunya ini, ia meraih juara 2 pada event yang di selenggarakan se-Jawa
Tengah.
“Dari nomor 400 meter itu sayamedapatkanhasiljuara 2
pada
event yang di selenggarakan se-Jateng”, ujarnya.
Melihat hasil itu, ia menjadi
termotivasi dan menambah keyakinan bahwa pada nomor yang saat ini ia tekuni
akan membawanya mendapatkan serta meraih pencapaian prestasi yang
setinggi-tingginya. Dan kali ini ia sedang mengejar untuk bisa berlomba pada
ajang multievent empat tahunan yakni
PORPROV JATENG 2018 yang akan dilaksanakan di Solo pada bulan Oktober mendatang,
dalam event tersebut 44 cabang
olahraga akan digelar, Atletik salah satunya.
“Harapanya,AlhamdulillahlolosPORPROV JATENG , dan targetPORPROVmasuk difinal sajasudahAlhamdulillah”, ujarnya.
Demi mewujudkan target tersebut ia
bertekad akan terus berlatih dengan giat dan tekun, meskipun sekarang ini dia
tengah disibukkan dengan kuliahnya di salah satu perguruan tinggi negeri di
kota Semarang, namun ia tetap yakin bahwa harapan dan targetnya mampu ia raih,
meski lawan-lawan yang ia hadapi pasti lebih hebat dari dirinya, namun ia tetap
yakin dan percaya pada kemampuannya.







0 komentar:
Posting Komentar